MAKALAH
TRANSAKSI
JUAL BELI
Dosen:H.M.Zuhri,
SHI,M.Pd.I
Mata Kuliah:
Fiqih Muamalah
![]() |
Disusun oleh :
Muhammad
Zainul : 13.41.014386
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
PALANGKARAYA
FAKULTAS AGAMA ISLAM
PROGRAM STUDI AHS
2014/2015
KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Dengan mengucapkan puji dan syukur
kehadiran Allah SWT, yang telah
Memberikan
Rahmat dan Karunia-Nya . sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan makalah
ini tepat pada waktunya. Makalah ini di susun untuk memenuhi salah satu mata
kuliah “Fiqih Muamalah”.
Kami juga menyadari banyak kekurangan dan
kesalahan serta kelemahan dan
Kekeliruan.
Untuk itu kami mohon kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat
membangun demi menyempurnakan makalah
ini dan makalah- makalah berikutnya. Kami berharap semoga makalah ini berguna
dan bermanfaat , serta dapat menambah pengetahuan dan wawasan bagi kita
khususnya mahasiswa Universitas muhammadiyah palangkaraya (UMP).
Palangkaraya,13 ,
Maret,2014
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................................i
DAFTAR
ISI..............................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN..............................................................................................1
A. latar
belakang...............................................................................................1
B. Rumusam masalah.......................................................................................2
BAB II PENDAHULUAN..............................................................................................3
A. Pengertian Jual Beli......................................................................................3
B. Rukun dan Pelaksanaan Jual Beli.................................................................6
C. Hukum Jual Beli...........................................................................................7
D. Macam – macam Jual Beli............................................................................7
BAB III PENUTUP........................................................................................................11
A.
KESIMPULAN..........................................................................................11
DAFTAR
PUSTAKA..............................................................................................................................12
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Atas dasar
pemenuhan kebutuhan sehari –hari, maka terjadilah suatu kegiatan yang di
namakan jual beli. Jual beli menurut bahasa artinya menukar sesuatu dengan
sesuatu, sedang menurut syara’ artinya menukar harta dengan harta menurut
cara-cara tertentu (‘aqad). Sedangkan riba yaitu memiliki sejarah yang sangat
panjang dan prakteknya sudah dimulai semenjak banga Yahudi sampai masa
Jahiliyah sebelum Islam dan awal-awal masa ke-Islaman. Padahal semua agama
Samawi mengharamkan riba karena tidak ada kemaslahatan sedikitpun dalam
kehidupan bermasyarakat. Allah SWT berfirman:
فَبِظُلْمٍ مِّنَ الَّذِينَ هَادُواْ حَرَّمْنَا
عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَن سَبِيلِ اللّهِ
كَثِيرًا وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُواْ عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ
النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا
Artinya: Maka
disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan
makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena
mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka
memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan
karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah
menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.
(QS an-Nisaa’ 160-161)
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ
كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ
بِأَنَّهُمْ قَالُواْ إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللّهُ
الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
Artinya: Orang-orang
yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya
orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka
yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya
jual-beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan
mengharamkan riba. (QS. Al-Baqarah : 275)
Jual beli adalah salah
satu urusan duniawi yang disyariatkan oleh Islam, sebagaimana yang termaktub
dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 275:
وَأَحَلَّ
اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
Artinya: Allah telah menghalalkan
jual beli dan mengharamkan riba
B. Rumusan
Masalah
a.
Definisi Aqad Jual Beli...................?
b.
Syarat Shah Aqad Jual Beli............?
c.
Jual Beli Yang Dilarang Islam.........?
BAB II
TRANSAKSI JUAL BELI
A.
JUAL BELI
1.
Pengertian Jual Beli
Jual beli menurut bahasa artinya menukar sesuatu dengan sesuatu, sedang menurut
syara’ artinya menukar harta dengan harta menurut cara-cara tertentu (‘aqad)[1]
Jual beli secara lughawi adalah saling
menukar. Jual beli dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah al-bay’. Secara
terminologi jual beli adalah suatu transaksi yang dilakukan oleh pihak penjual
dengan pihak pembeli terhadap sesuatu barang dengan harga yang disepakatinya.
Menurut syari’at islam telah mengetahui masing-masing bahwa transaksi jual-beli
telah berlangsung dengan sempurna. jual beli adalah pertukaran harta atas dasar
saling merelakan atau memindahkan hak milik dengan ganti yang dapat dibenarkan.
Jual-beli atau bay’u adalah suatu
kegiatan tukar-menukar barang dengan barang yang lain dengan cara tertentu baik
dilakukan dengan menggunakan akad maupun tidak menggunakan akad[2]
Intinya, antara penjual dan pembeli .
B.
Landasan
Hukum Jual Beli
Landasan Syara’: Jual beli di syariatkan berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan
Ijma’. Yakni:
1.
Berdasarkan Al-Qur’an diantaranya:
وَحَرَّمَ وَحَرَّمَ الْبَيْعَ اللَّهُ وَأَحَلَّ
Artinya: “ Allah
menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (Al- Baqarah : 275)
قِيَامًا
لَكُمْ اللَّهُ جَعَلَ الَّتِي أَمْوَالَكُمُ السُّفَهَاءَ تُؤْتُوا وَلا
Artinya: “
dan janganlah kamu berikan hartamu itu kepada orang yang bodoh dan harta itu dijadikan Allah untukmu sebagai
pokok penghidupan”. (An-Nisa:5).
تَقْتُلُوا
وَلا مِنْكُمْ تَرَاضٍ عَنْ تِجَارَةً تَكُونَ أَنْ إِلا بِالْبَاطِلِ بَيْنَكُمْ
أَمْوَالَكُمْ تَأْكُلُوا لا آمَنُوا الَّذِينَ أَيُّهَا يَا
رَحِيمًا بِكُمْ كَانَ إِنَّ إأَنْفُسَكُمْ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta
sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku
dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu,
sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”. (An-Nisa: 29).
2.
Berdasarkan Sunnah
Rasulullah Saw. Bersabda:
Artinya: “dari Rifa’ah bin Rafi’ ra.: bahwasannya Nabi Saw.
Ditanya: pencarian apakah yang paling baik? Beliau menjawab: “Ialah orang yang
bekerja dengan tangannya dan tiap-tiap jual beli yang bersih”. (H.R Al-Bazzar
dan disahkan Hakim).
Rasulullah Saw, bersabda:
Artinya: “sesungguhnya jual beli itu hanya sah jika suka sama suka
(saling meridhoi) (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Majah).
3.
Bardasarkan Ijma’
Ulama telah sepakat bahwa jual-beli diperbolehkan dengan alasan bahwa
manusia tidak akan mampu mencukupi kebutuhan dirinya, tanpa bantuan orang lain.
Namun demikian, bantuan atau harta milik orang lain yang dibutuhkannya itu,
harus diganti dengan barang lainnya yang sesuai.
C.
Rukun dan
Pelaksanaan Jual Beli
Dalam menetapkan rukun jual-beli, diantara para ulama terjadi perbedaan
pendapat. Menurut Ulama Hanafiyah, rukun jual-beli adalah ijab dan qabul yang
menunjukkan pertukaran barang secara rida, baik dengan ucapan maupun perbuatan.
Adapun rukun jual-beli menurut
Jumhur Ulama ada empat, yaitu:[3]
1. Bai’ (penjual)
2. Mustari
(pembeli)
3. Shighat (ijab dan qabul)
4. Ma’qud ‘alaih (benda atau barang).
a. Syarat
Jual-beli
Transaksi jual-beli baru dinyatakan
terjadi apabila terpenuhi tiga syarat jual-beli, yaitu:
Adanya dua pihak yang melakukan transaksi jual-beli
1)
Adanya sesuatu atau barang yang
dipindahtangankan dari penjual kepada pembeli
2)
Adanya kalimat yang menyatakan
terjadinya transaksi jual-beli (sighat ijab qabul).
b. Syarat yang harus
dipenuhi oleh penjual dan pembeli adalah:
1)
Agar tidak terjadi penipuan, maka
keduanya harus berakal sehat dan dapat membedakan (memilih).
2)
Dengan kehendaknya sendiri, keduanya
saling merelakan, bukan karena terpaksa.
3)
Dewasa atau baligh.
c. Syarat benda
dan uang yang diperjual belikan sebagai berikut:
1)
Bersih atau suci barangnya.
Tidak syah
menjual barang yang najis seperti anjing, babi, khomar dan lain-lain yang
najis.
2)
Ada manfaatnya: jual beli yang ada
manfaatnya sah, sedangkan yang tidak ada manfaatnya tidak sah, seperti jual
beli lalat, nyamuk, dan sebagainya.
3)
Dapat dikuasai: tidak sah menjual
barang yang sedang lari, misalnya jual beli kuda yang sedang lari yang belum
diketahui kapan dapat ditangkap lagi, atau barang yang sudah hilang atau barang
yang sulit mendapatkannya.
4)
Milik sendiri: tidak sah menjual
barang orang lain dengan tidak seizinnya, atau barang yang hanya baru akan
dimilikinya atau baru akan menjadi miliknya.
5)
Mestilah diketahui kadar barang atau
benda dan harga itu, begitu juga jenis dan sifatnya. Jual beli benda yang
disebutkan sifatnya saja dalam janji (tanggungan), maka hukumnya boleh.
D.
Hukum Jual
Beli
Secara asalnya, jua-beli itu merupakan hal yang hukumnya mubah atau
dibolehkan. Sebagaimana ungkapan Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah : dasarnya
hukum jual-beli itu seluruhnya adalah mubah, yaitu apabila dengan keridhaan
dari kedua-belah pihak. Kecuali apabila jual-beli itu dilarang oleh Rasulullah
SAW. Atau yang maknanya termasuk yang dilarang beliau SAW.[4]
E.
Macam –
macam Jual Beli
Merut para jumhur ulama jual beli dapat ditinjau dari beberapa segi, di
lihat dari segi hukumnya, jual beli ada dua macam yaitu :
1. Jual beli
yang sah,adalah jual beli yang telah memenuhi ketentuan syara’, baik
rukun maupun syaratnya, syarat jual beli antara lain :
a.
Barangnya suci
b.
Bermanfaat
c.
Milik penjual (dikuasainya )
d.
Bisa di serahkan
e.
Di ketahui keadaannya
2. Jual beli yang batal, adalah
jual beli yang tidak memenuhi salah satu syarat dan rukun sehingga jual beli
menjadi rusak (fasid). Dengan kata lain, menurut jumhur ulama, rusak dan batal
memiliki arti yang sama. Adapun ulama hanafiyah membagi hukum dan sifat jual
beli menjadi sah, batal, dan rusak.
3. Jual beli yang di larang dalam islam
Jual beli yang dilarang dalam islam sangatlah
banyak menurut jumhur ulama. Berkenaan dengan jual beli yang di larang
dalam islam, Wahbah Al-Juhalili meringkasnya sebagai berikut :
4.. Terlarang
Sebab Ahliah (Ahli Akad )
Ulama telah sepakat bahwa jual beli dikategorikan
sahih apabila dilakukan oleh orang yang baligh, berakal, dan dapat memilih, dan
mampu ber-tasharruf secara bebas dan baik. Mereka yang di pandang tidak sah
jual belinya adalah berikut ini :
a.
Jual beli
orang gila
Ulama fiqih sepakat bahwa jual beli orang gila tidak
sah. Begitu pula sejenisnya, seperti orang mabuk, sakalor, dan lain-lain.
b.
Jual beli
anak kecil
Menurut ulama fiqih jual beli anak kecil di pandang
tidak sah, kecuali dalam perkara – perkara yang ringan atau sepele. Menurut
ulama Syafi’iyah, jual beli anak mimayyiz yang belum baligh, tidak sah sebab
tidak ada ahliyah.
Adapun menurut ulama Malikiyyah,
Hanafiyyah, dan Hanafiah, jual beli anak-anak kecil dianggap sah jika diizinkan
walinya. Mereka antara lain beralasan, salah satu cara untuk melatih kedewasaan
adalah dengan cara memberikan keleluasaan untuk jual beli, juga
pengamalan atas firman Allah, yang artinya:
#qè=tGö/$#ur 4yJ»tGuø9$# #Ó¨Lym #sÎ) (#qäón=t/ yy%s3ÏiZ9$# ÷bÎ*sù Läêó¡nS#uä öNåk÷]ÏiB #Yô©â (#þqãèsù÷$$sù öNÍkös9Î) öNçlm;ºuqøBr& ( wur !$ydqè=ä.ù's? $]ù#uó Î) #·#yÎ/ur br& (#rçy9õ3t 4 `tBur tb%x. $|ÏYxî ô#Ïÿ÷ètGó¡uù=sù ( `tBur tb%x. #ZÉ)sù ö@ä.ù'uù=sù Å$rá÷èyJø9$$Î/ 4 #sÎ*sù öNçF÷èsùy öNÍkös9Î) öNçlm;ºuqøBr& (#rßÍkôr'sù öNÍkön=tæ 4 4xÿx.ur «!$$Î/ $Y7Å¡ym ÇÏÈ
Artinya: Dan ujilah[269] anak
yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. kemudian jika menurut
pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), Maka serahkanlah
kepada mereka harta-hartanya. dan janganlah kamu Makan harta anak yatim lebih
dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya)
sebelum mereka dewasa. barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, Maka
hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan Barangsiapa
yang miskin, Maka bolehlah ia Makan harta itu menurut yang patut. kemudian
apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, Maka hendaklah kamu adakan
saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. dan cukuplah Allah sebagai
Pengawas (atas persaksian itu). (Q.S. An-Nisa’ :6)
c.
Jual beli
orang buta
Jual beli orang buta di kategorikan sahih munurut
jumhur ulama jika barang yang dibelinya diberi sifat ( diterangkan
sifat-sifatnya ). Menurut Safi’iyah, jual beli orang buta tidak sah sebab ia
tidak dapat membedakan barang yang jelek dan yang baik.
Menurut ulama Safi’iyah dan Hanabilah, jual beli ini
tidak sah , sebab tidak ada keridaan ketika akad.
e.
Jual beli
fudhul
Adalah jual beli milik orang tanpa seizinnya. Munurut
Hanafiyah dan Malikiyah, jual beli di tangguhkan sampai ada izin pemilik.
Menurut Safi’iyah dan Hanabilah, jual beli fudhul tidak sah.
f.
Jual beli
orang yang terhalang
Maksudnya adalah terhalang karena kebodohan, bangkrut
ataupun sakit.
5. Terlarang
Sebab Ma’qud Alaih ( barang jualan )
Secara umum, ma’qud alaih adalah harta yang di jadikan alat pertukaran olah
orang yang akad, yang biasa di sebut mabi’ (barang jualan) dan harga.
a.
Jual-beli benda yang tidak ada atau
di khawatirkan tidak ada
b.
Jual-beli barang yang tidak dapat di
serahkan
c.
Jual-beli gharar ataui di sebut juga
dengan jual beli yang tidak jelas (majhul)
d.
Jual-beli barang yang najis dan yang
terkena najis.
e.
Jual-beli barang yang tidak ada
ditempat akad (ghaib), tidak dapat dilihat.
6. Terlarang
sebab syara’
a.
Jual-beli
riba
b.
Jual-beli
barang yang najis
Barang yang diperjual belikan harus suci dan
bermanfaat untuk manusia. Tidak boleh (haram) berjual beli barang yang najis
atau tidak bermanfaat seperti: arak, bangkai, babi, anjing, berhala, dan lain-lain.
Nabi saw. Bersabda ;
اِنّ ا للهَ
تعالى حَرَّم بَيْعَ اْلخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيْرِ وَالأَصْنَامِ .
(رواه الشيغان)
Artinya : “ Nabi bersabda : Allah ta’ala melarang
jual beli arak, bangkai, babi, anjing, dan berhala.”(bukhari dan muslim)
c.
Jual-beli
dengan uang dari barang yang diharamkan
d.
Jual-beli
barang dari hasil pencurian barang
e.
Jual-beli
waktu ibadah sholat jum’at, berdasarkan Q.S. Al Jumu’ah ayat 9, yaitu:
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sÎ) ÏqçR Ío4qn=¢Á=Ï9 `ÏB ÏQöqt ÏpyèßJàfø9$# (#öqyèó$$sù 4n<Î) Ìø.Ï «!$# (#râsur yìøt7ø9$# 4 öNä3Ï9ºs ×öyz öNä3©9 bÎ) óOçGYä. tbqßJn=÷ès? ÇÒÈ
Artinya : Hai
orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka
bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli yang demikian
itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Q.S. Al Jumu’ah ayat 9).
f.
Jual-beli
anggur untuk dijadikan khamar
g.
Jual-beli
induk tanpa anaknya yang masih kecil
h.
Jual-beli
barang yang sedang dibeli oleh orang lain
i.
Jual-beli
memakai syarat.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa :Jual beli
secara lughawi adalah saling menukar. Jual beli dalam bahasa Arab dikenal dengan
istilah al-bay’. Secara terminology jual beli adalah suatu transaksi yang
dilakukan oleh pihak penjual dengan pihak pembeli terhadap sesuatu barang
dengan harga yang disepakatinya. Menurut syari’at islam jual beli adalah
pertukaran harta atas dasar saling merelakan atau memindahkan hak milik dengan
ganti yang dapat dibenarkan.
Adapun rukun jual-beli menurut
Jumhur Ulama ada empat, yaitu:
1.
Bai’ (penjual)
2.
Mustari (pembeli)
3.
Shighat (ijab dan qabul)
4.
Ma’qud ‘alaih (benda atau barang).
DAFTAR
PUSTAKA
Rasyid Sulaiman, 2010, Fiqih Islam,Sinar Baru
Algensindo, Bandung
Yunus Mahmud, Naimi Nadlrah, 2011, Fiqih Muamalah, Ratu
Jaya, Medan
Syafe’i Rachmat, 2006, Fiqih Muamalah untuk UIN, STAIN, PTAIS, Dan Umum,
Pustaka Setia, Bandung
Imran Ali, 2011, Fikih, Taharah, Ibadah, Muamalah,
CV. Media Perintis, Bandung
Moh, Rifa’i, 1978, Ilmu Fiqih Islam Lengkap,CV.
Toha Putra, Semarang
Moh. Rifa’i, dkk, 1978, Terjemah Khulashah
Kifayatul Akhyar, CV. Toha Putra Semarang
[1]
Moh Rifa’i,Ilmu Fiqih Islam
Lengkap,Toha Putra,Semarang:1978, hal 402
[2]
Ali Imran,Fikih Taharah, Ibadah
Muamalah, Cipta Pustaka Media Perintis, Bandung:2011
[3] Rahmat Syafe’i,Fiqih Muamalah untuk UIN,STAIN,
PTANIS, dan Umum, Pustaka Setia, Bandung:2006, hal: 76
[4]
Lihat al-Fqihul
Islami wa Adillatuhu oleh Dr. Wahbah Az-zuhaili jilid 4 halaman 364

Casino Bonus Codes - Get Up To 70 Free Spins on Your First
BalasHapusGet 복불복룰렛 up 넷마블바카라 to 70 free spins on 샌즈 casino 한게임 포커 머니 상 slots on slots, casino classics, roulette, craps, craps, Casino bonus bet codes. You can use them today.